Pemanfaatan Lahan Pekarangan Sempit untuk Budidaya Tanaman Obat Keluarga (TOGA) dan Sayuran Guna Meningkatkan Ketahanan Pangan dan Perekonomian Keluarga
##plugins.themes.academic_pro.article.main##
Abstract
Di tengah laju urbanisasi dan menyempitnya lahan terbuka, pekarangan rumah, bahkan yang hanya berukuran beberapa meter, menyimpan potensi luar biasa yang sering kali terabaikan. Program pemanfaatan lahan pekarangan sempit untuk budidaya Tanaman Obat Keluarga (TOGA) dan sayuran bukan sekadar hobi, melainkan sebuah langkah strategis dan mendesak dalam menjawab tantangan zaman. Gagasan ini hadir sebagai solusi nyata untuk membangun ketahanan pangan dan meningkatkan perekonomian keluarga dari tingkat yang paling dasar. Tekanan hidup di era modern semakin nyata. Lahan pertanian menyusut, sementara harga pangan dan biaya kesehatan terus melambung. Ketergantungan kita pada pasokan sayuran dan obat-obatan dari pasar modern membuat posisi keluarga sangat rentan. Membangun fondasi yang kuat dan berkelanjutan. Program ini hadir dengan misi yang jelas dan terukur. Pertama, untuk menjaga ketahanan pangan keluarga dengan menjamin ketersediaan sayuran bernutrisi tinggi dan tanaman obat yang siap panen kapan saja. Kedua, kami ingin meningkatkan kemandirian kesehatan dengan mendorong setiap keluarga untuk memiliki "apotek hidup" sendiri untuk pencegahan dan perawatan dini. Program dilaksanakan dengan pendekatan partisipatif melalui Participatory Rural Appraisal (PRA) dan Action Research. Tahapan pelaksanaan meliputi observasi dan sosialisasi, pelatihan intensif mengenai teknik bertani lahan sempit (vertikultur, hidroponik sederhana, tabulampot), budidaya TOGA dan sayuran mikro, pengolahan TOGA, serta kewirausahaan. Pendampingan rutin dilakukan setiap dua minggu untuk memastikan keberlanjutan praktik. Metode ini melibatkan 30 ibu rumah tangga sebagai peserta utama di Desa Juluk. Hasil: Program berhasil membangun 30 unit demplot produktif di pekarangan peserta dengan teknologi vertikultur dan hidroponik sederhana. Sebanyak 90% peserta telah mampu memanen sayuran (sawi, kangkung, bayam) dan TOGA (jahe, kunyit, kencur) untuk konsumsi keluarga. Terbentuknya Kelompok KRPL Desa Juluk yang aktif berbagi bibit dan pengetahuan.
##plugins.themes.academic_pro.article.details##

This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License.
References
- Angela L, Putri WM, Aulia U, Saputri T. Pemanfaatan tanaman TOGA dalam upaya. 2023;3(1):19–22.
- Diana SN, Octavia P, Azizah VA, Firmani U, Rahim AR, Gresik UM. Sosialisasi pemanfaatan tanaman obat keluarga untuk pencegahan stunting. 2024;6:105–111.
- Fatmasari FH, Trismarwati D, Putri FM, Agung M. Penyuluhan budidaya tanaman TOGA di Desa Kepatihan Tulangan Sidoarjo. 2022;6(1):45–52.
- Hariyati T, Putra MU, Lesmana R. Pengenalan tanaman TOGA dan manfaatnya bagi kesehatan. 2(1):16–20.
- Latief M, Tarigan IL, Amaris NC. Pemanfaatan tanaman obat keluarga (TOGA) sebagai upaya swamedikasi melalui pembuatan minuman immunostimulan. 2022;7(2):533–541. doi:10.30653/002.202272.3.
- Mardiana N, Subaidah WA. Sosialisasi penanaman dan pemanfaatan tanaman obat keluarga (TOGA). 2022;3(2):4–7.
- Marina I, Ismail AY, Andayani SA, Oksifa A, Harti R. Pengolahan tanaman TOGA sebagai upaya peningkatan ekonomi keluarga. 2023;4(1):574–578.
- Meilina R, Dewi R, Nadia P. Sosialisasi pemanfaatan tanaman obat keluarga (TOGA) untuk meningkatkan imun tubuh di masa pandemi COVID-19. 2020;2(2):89–94.
- Nurhab MI. Penanaman dan pemanfaatan tanaman obat keluarga (TOGA) bagi masyarakat Desa Negeri Tua. :33–42.
- Sari N, Andjasmara TC. Penanaman tanaman obat keluarga (TOGA) untuk mewujudkan masyarakat sehat. J Bina Desa. 2023;5(1):124–128